Hai sahabat -sahabatku.
Kemarin kita sudah membahas tentang
kehamilan dan kehamilan pada usia remaja kaaan..
Nah, kali ini aku bakal sampein
informasi tentang stres & koping stres pada kehamilan remaja.
Please help yourself :)
STRES & KOPING STRES PADA KEHAMILAN
REMAJA
Menjadi seorang ibu bukanlah tugas yang
mudah. Stres sangat mudah timbul dan menyereang para ibu. Apalagi pada ibu muda
yang masih berusia remaja.
Wanita yang menikah, pada umumnya akan
segera memiliki anak dan bertambah peran menjadi ibu. Remaja pun masuk pada
tahap pernikahan childbearing, yang mana akan ada beberapa tugas perkembangan
sebagai istri dan ibu yang tumpang tindih dengan tugas perkembangannya sebagai
remaja sehingga remaja akan mendapatkan beban yang lebih besar untuk
menyelesaikan tugas di tahap ini. Padahal remaja adalah masa dimana manusia
berada pada tahap untuk menemukan identitasnya sebagai individu, siapa dia, apa
saja yang berkaitan dengan dirinya, dan apa yang dikerjakan sepanjang
hidupnya. Selain tugas perkembangan yang tumpang tindih mengenai identitas
remaja juga mengalami dua masa transisi sekaligus pada fase ini. Fase
childbearing merupakan masa transisi pasangan suami istri menjadi orang tua.
Transisi ini membawa perubahan besar bagi peran, tanggung jawab, dan identitas
pria maupun wanita. Remaja juga merupakan masa transisi dari seorang anak
menuju orang dewasa yang melibatkan berbagai perubahan dari aspek biologis,
kognitif, dan sosioemosional.
Bagi seorang remaja yang baru pertama kali
mengalami kehamilan, hal ini merupakan keadaan yang relatif baru. Karena kehamilan
akan menyebabkan perubahan, baik perubahan fisik maupun psikologis selama masa kehamilan.
Perubahan-perubahan tersebut bisa menjadi stressor dalam kehidupan. Perubahan selama
kehamilan, kecemasan dan faktor ekonomi bisa menjadi sumber stress. Ibu yang
berada pada usia remaja akan mendapatkan beban tugas perkembangan di tahap
childbearing yang lebih besar daripada ibu berusia dewasa. Keadaan yang
baru dan dengan usia yang belum
mencukupi standard menikah akan membuat ibu berusia remaja mengalami stres yang
berpengaruh pada penyesuaian pernikahannya.
Menurut Lazarus dan Folkman (1986), tugas perkembangan yang saling
tumpang tindih memunculkan keadaan stressful bagi ibu berusia remaja karena
jumlahnya banyak (overload). Tugas yang banyak (overload) merupakan salah satu
situasi yang memunculkan stres. Keadaan stres tidak hanya dialami oleh sang
istri, namun juga bisa berdampak pada suami. Menurut Bodenmann pada tahun 2005,
stress yang dialami oleh pasangan secara negatif akan mempengaruhi kualitas pernikahan
mereka sendiri. Berikut ada 3 cara pengaruh stres yang akan mengganggu
pernikahan, yaitu : stres mempengaruhi komunikasi pasangan, mengurangi waktu
bersama dengan pasangan, dan meningkatkan masalah kesehatan.
Coping merupakan suatu proses yang dilakukan
oleh individu untuk mencoba mengelola stres yang dialaminya dengan cara
tertentu, berikut ujar Sarafino (2006). Sedangkan perilaku coping menurut
Chaplin (2006) adalah suatu perilaku dimana individu melakukan interaksi dengan
lingkungan sekitarnya dengan tujuan menyelesaikan tugas atau masalah. Flokman
dan Lazarus (Sarafino, 2006) secara umum membedakan bentuk coping dalam dua
klasifikasi yaitu :
a. Problem Focused Coping (PFC) adalah
merupakan bentuk coping yang lebih diarahkan kepada upaya untuk mengurangi
tuntutan dari situasi yang penuh tekanan.
b. Emotion Focused Coping (EFC) merupakan
bentuk coping yang diarahkan untuk mengatur respon emosional terhadap situasi
yang menekan. Individu dapat mengatur respon emosionalnya dengan pendekatan behavioral
dan kognitif.
Sumber koping selama kehamilan pada usia
remaja berasal dari internal dan eksternal (Barnet, 1996). Sumber koping
internal yaitu keyakinan positif. Keyakinan positif menjadi sumber daya
psikologis yang sangat penting seperti keyakinan kepada Tuhan (Stuart, 2001).
Sumber koping eksternal yang didapatkan partisipan berasal dari keluarga,
tenaga kesehatan dan teman.
Bentuk
dukungan yang didapatkan remaja yang hamil di usia remaja sama halnya dengan
sumber koping, yang mana sumber koping tersebut dibagi menjadi 2, yaitu
internal dan eksternal. Bentuk dukungan internal yang didapatkan partisipan
adalah dari diri sendiri dan keluarga. Menurut Friedman (2003), bentuk dukungan
dapat berasal dari perilaku individu itu sendiri, yaitu dengan mengembangkan
rencana alternatif untuk menghadapi situasi yang sedang dialami. Dukungan dalam
keluarga itu berupa kemampuan memberikan penguatan satu sama lain dan kemampuan
menciptakan suasana memiliki, sehingga dukungan keluarga merupakan sumber
kekuatan bagi remaja hamil (Craven, 2009). Sedangkan dukungan eksternal
merupakan dukungan sosial berupa mencari dukungan atau bantuan dari teman atau
keluarga jauh , berikut pendapat menurut Rasmun (2004). Selain individu itu
sendiri, teman dan keluarga, dukungan lain yang berperan adalah tenaga
kesehatan yang berada di lingkungan sekitar tempat tinggal karena lokasi
pelayanan kesehatan tempat petugas kesehatan bekerja mudah dijangkau (Stuart,
2001).
Mekanisme
koping kehamilan pada usia remaja yang digunakan oleh kebanyakan remaja adalah
mekanisme koping yang adaptif, yaitu apabila seseorang dapat menceritakan secara
verbal tentang perasaannya, ujar Craven (2009). Koping adaptif tersebut dapat
berupa seperti bercerita kepada orang lain, mencari hiburan, mencari pengobatan
dan beristirahat. Namun koping yang maladaptif terkadang masih dilakukan
sebagai bentuk pelarian dari kecemasan atau masalah yang dihadapi, ini
merupakan koping negatif dan akan berdampak negatif baik pada individu tersebut
maupun orang lain, karena pengertian koping maladaptif itu sendiri menurut
Struart (2001) adalah suatu keadaan dimana individu menghindar dari kecemasan
atau masalah yang dihadapi, sehingga masalah tersebut tidak terpecahkan.
Manfaat
koping efektif kehamilan pada usia remaja yang paling efektif adalah strategi
yang sesuai dengan tujuan koping itu sendiri. Keberhasilan koping lebih
tergantung pada penggabungan beberapa koping dan sesuai dengan ciri dari
masing-masing sumber stres. Penggabungan koping yang dimaksud adalah penggabungan
antara emotion focusing coping dan problem focusing coping (Craven, 2009)
Kemudian
pada kasus remaja yang hamil diluar nikah, mereka berada pada kondisi yang
sulit dan dirugikan, disamping harus berjuang menghadapi berbagai situasi sulit
tersebut untuk melanjutkan kehidupan yang lebih baik, menjadi seorang ibu dan
istri sekaligus. Maka, dibutuhkan kemampuan untuk bisa bertahan dan pulih untuk
bangkit dari segala situasi yang menyulitkan, dan kemampuan tersebut dinamakan
resiliensi. Menurut Benard dalam Krovetz pada tahun 1999, resiliensi adalah
sebuah kemampuan untuk memantul atau bangkit kembali dari situasi yang menekan
dan penuh resiko. Dalam pelaksanaan resiliensi sangat dibutuhkan koping, untuk
mendorong dan mempercepat prosesnya.