Senin, 16 November 2015

STRES & KOPING PADA KEHAMILAN REMAJA

Hai sahabat -sahabatku.
Kemarin kita sudah membahas tentang kehamilan dan kehamilan pada usia remaja kaaan..
Nah, kali ini aku bakal sampein informasi tentang stres & koping stres pada kehamilan remaja.
Please help yourself :)

STRES & KOPING STRES PADA KEHAMILAN REMAJA
Menjadi seorang ibu bukanlah tugas yang mudah. Stres sangat mudah timbul dan menyereang para ibu. Apalagi pada ibu muda yang masih berusia remaja.

Wanita yang menikah, pada umumnya akan segera memiliki anak dan bertambah peran menjadi ibu. Remaja pun masuk pada tahap pernikahan childbearing, yang mana akan ada beberapa tugas perkembangan sebagai istri dan ibu yang tumpang tindih dengan tugas perkembangannya sebagai remaja sehingga remaja akan mendapatkan beban yang lebih besar untuk menyelesaikan tugas di tahap ini. Padahal remaja adalah masa dimana manusia berada pada tahap untuk menemukan identitasnya sebagai individu, siapa dia, apa saja yang berkaitan dengan dirinya, dan apa yang dikerjakan sepanjang hidupnya. Selain tugas perkembangan yang tumpang tindih mengenai identitas remaja juga mengalami dua masa transisi sekaligus pada fase ini. Fase childbearing merupakan masa transisi pasangan suami istri menjadi orang tua. Transisi ini membawa perubahan besar bagi peran, tanggung jawab, dan identitas pria maupun wanita. Remaja juga merupakan masa transisi dari seorang anak menuju orang dewasa yang melibatkan berbagai perubahan dari aspek biologis, kognitif, dan sosioemosional.

Bagi seorang remaja yang baru pertama kali mengalami kehamilan, hal ini merupakan keadaan yang relatif baru. Karena kehamilan akan menyebabkan perubahan, baik perubahan fisik maupun psikologis selama masa kehamilan. Perubahan-perubahan tersebut bisa menjadi stressor dalam kehidupan. Perubahan selama kehamilan, kecemasan dan faktor ekonomi bisa menjadi sumber stress. Ibu yang berada pada usia remaja akan mendapatkan beban tugas perkembangan di tahap childbearing yang lebih besar daripada ibu berusia dewasa. Keadaan yang baru  dan dengan usia yang belum mencukupi standard menikah akan membuat ibu berusia remaja mengalami stres yang berpengaruh pada penyesuaian pernikahannya.  Menurut Lazarus dan Folkman (1986), tugas perkembangan yang saling tumpang tindih memunculkan keadaan stressful bagi ibu berusia remaja karena jumlahnya banyak (overload). Tugas yang banyak (overload) merupakan salah satu situasi yang memunculkan stres. Keadaan stres tidak hanya dialami oleh sang istri, namun juga bisa berdampak pada suami. Menurut Bodenmann pada tahun 2005, stress yang dialami oleh pasangan secara negatif akan mempengaruhi kualitas pernikahan mereka sendiri. Berikut ada 3 cara pengaruh stres yang akan mengganggu pernikahan, yaitu : stres mempengaruhi komunikasi pasangan, mengurangi waktu bersama dengan pasangan, dan meningkatkan masalah kesehatan.

Coping merupakan suatu proses yang dilakukan oleh individu untuk mencoba mengelola stres yang dialaminya dengan cara tertentu, berikut ujar Sarafino (2006). Sedangkan perilaku coping menurut Chaplin (2006) adalah suatu perilaku dimana individu melakukan interaksi dengan lingkungan sekitarnya dengan tujuan menyelesaikan tugas atau masalah. Flokman dan Lazarus (Sarafino, 2006) secara umum membedakan bentuk coping dalam dua klasifikasi yaitu :
a. Problem Focused Coping (PFC) adalah merupakan bentuk coping yang lebih diarahkan kepada upaya untuk mengurangi tuntutan dari situasi yang penuh tekanan.
b. Emotion Focused Coping (EFC) merupakan bentuk coping yang diarahkan untuk mengatur respon emosional terhadap situasi yang menekan. Individu dapat mengatur respon emosionalnya dengan pendekatan behavioral dan kognitif.
Sumber koping selama kehamilan pada usia remaja berasal dari internal dan eksternal (Barnet, 1996). Sumber koping internal yaitu keyakinan positif. Keyakinan positif menjadi sumber daya psikologis yang sangat penting seperti keyakinan kepada Tuhan (Stuart, 2001). Sumber koping eksternal yang didapatkan partisipan berasal dari keluarga, tenaga kesehatan dan teman.

Bentuk dukungan yang didapatkan remaja yang hamil di usia remaja sama halnya dengan sumber koping, yang mana sumber koping tersebut dibagi menjadi 2, yaitu internal dan eksternal. Bentuk dukungan internal yang didapatkan partisipan adalah dari diri sendiri dan keluarga. Menurut Friedman (2003), bentuk dukungan dapat berasal dari perilaku individu itu sendiri, yaitu dengan mengembangkan rencana alternatif untuk menghadapi situasi yang sedang dialami. Dukungan dalam keluarga itu berupa kemampuan memberikan penguatan satu sama lain dan kemampuan menciptakan suasana memiliki, sehingga dukungan keluarga merupakan sumber kekuatan bagi remaja hamil (Craven, 2009). Sedangkan dukungan eksternal merupakan dukungan sosial berupa mencari dukungan atau bantuan dari teman atau keluarga jauh , berikut pendapat menurut Rasmun (2004). Selain individu itu sendiri, teman dan keluarga, dukungan lain yang berperan adalah tenaga kesehatan yang berada di lingkungan sekitar tempat tinggal karena lokasi pelayanan kesehatan tempat petugas kesehatan bekerja mudah dijangkau (Stuart, 2001).

Mekanisme koping kehamilan pada usia remaja yang digunakan oleh kebanyakan remaja adalah mekanisme koping yang adaptif, yaitu apabila seseorang dapat menceritakan secara verbal tentang perasaannya, ujar Craven (2009). Koping adaptif tersebut dapat berupa seperti bercerita kepada orang lain, mencari hiburan, mencari pengobatan dan beristirahat. Namun koping yang maladaptif terkadang masih dilakukan sebagai bentuk pelarian dari kecemasan atau masalah yang dihadapi, ini merupakan koping negatif dan akan berdampak negatif baik pada individu tersebut maupun orang lain, karena pengertian koping maladaptif itu sendiri menurut Struart (2001) adalah suatu keadaan dimana individu menghindar dari kecemasan atau masalah yang dihadapi, sehingga masalah tersebut tidak terpecahkan.

Manfaat koping efektif kehamilan pada usia remaja yang paling efektif adalah strategi yang sesuai dengan tujuan koping itu sendiri. Keberhasilan koping lebih tergantung pada penggabungan beberapa koping dan sesuai dengan ciri dari masing-masing sumber stres. Penggabungan koping yang dimaksud adalah penggabungan antara emotion focusing coping dan problem focusing coping (Craven, 2009)

Kemudian pada kasus remaja yang hamil diluar nikah, mereka berada pada kondisi yang sulit dan dirugikan, disamping harus berjuang menghadapi berbagai situasi sulit tersebut untuk melanjutkan kehidupan yang lebih baik, menjadi seorang ibu dan istri sekaligus. Maka, dibutuhkan kemampuan untuk bisa bertahan dan pulih untuk bangkit dari segala situasi yang menyulitkan, dan kemampuan tersebut dinamakan resiliensi. Menurut Benard dalam Krovetz pada tahun 1999, resiliensi adalah sebuah kemampuan untuk memantul atau bangkit kembali dari situasi yang menekan dan penuh resiko. Dalam pelaksanaan resiliensi sangat dibutuhkan koping, untuk mendorong dan mempercepat prosesnya.  


0 komentar:

Posting Komentar